Rabu, 04 Januari 2012

PUISI TAHUN BARU


TAHUN BARU
Tahun baru
Kedatanganmu penuh dengan harapan
Harapan baru yang tak pernah tercapai sebelumnya
Tahun baru
Kedatanganmu penuh dengan perubahan
Dulu yang masih kurang, kini mencoba untuk melengkapinya
Kaulah tahun penuh maaf
Karna, Semua orang saling mohon maaf atas kesalahan di tahun sebelumnya
Hanya demi menyambut kau
Wahai tahun baru
Kedatanganmu selalu disambut semua orang
Dari balita, anak-anak, remaja, dewasa sampai yang tua
Suara terompet,
Suara tlakson,
Selalu menyambutmu dengan serentak
Kembang api pun ikut menghiasi langit
Demi  menyambut kedatanganmu
Tahun baru
Kaulah bagai kertas putih lagi kosong
Yang siap untuk diberikan coretan oleh manusia untuk kedepannya
Di tahun inilah semuanya akan terjadi
Akankah terjadi tahun yang buruk?
Akankah terjadi tahun yang baik?
Semua tergantung kamu sendiri

CERPEN DURI BERSEMAYAM DALAM HATI


DURI BERSEMAYAM DALAM HATI
Senja telah berlalu, duduklah seorang gadis di depan teras rumahnya. Gadis yang sangat cantik parasnya, dengan rambut yang lurus terurai, mata yang lentik dengan lensa mata kecokelatan seakan menggambarkan kedamaian hidupnya.  Sambil memandang langit yang penuh dengan bintang, gadis itu tersenyum sendiri.  Sinar bulan pun menambahkan suasana malam menjadi lebih indah. Tatapan gadis itu tak menentu, kadang tatapanya ke Timur, kadang ke Barat. Sinar bulan dan juga bintang pun menyinari Desa Purikencana.
Sesekali menatap bulan mata gadis itu ikut memancarkan sinar akibat dari pancaran sinar bulan. Hari pun semakin malam, tapi entah mengapa gadis itu tak kunjung masuk rumahnya. Ia masih menikmati indahnya pemandangan di malam hari. Suara jangkrik pun menambahkan melodi malam menjadi suasana yang hening, gadis itu pun merasakan matanya semakin berat, seakan rasanya tak kuat lagi untuk menatap langit. Sesekali gadis itu menguap, akan tetapi jari-jari manisnya yang dihiasi oleh cincin bermata berlian dengan cekatan menutup mulutnya. Gadis itu adalah aku.
Ceklek..terdengar suara pintu yang ada di belakangku. Aku pun menolehkan kepala.“kamu masih disitu Met.? Dengan suara yang lembut suara itu keluar dari mulut Ibuku. Ia adalah seorang ibu yang sangat baik dan juga penyayang bagiku.
“Iya Bu, Meta masih disini”. Jawabku sambil tanganku memegang telinga yang dihiasi dengan anting-anting.
“Sepertinya kamu sudah mengantuk ya? Ayo masuk saja, dan segera tidur. Ayahmu saja sudah tidur”
“Iya Bu, Meta juga sudah ngantuk!”. Segera mungkin Aku berdiri dan sandal jepit berwarna putih lekas aku pakai. Sesekali aku menatap langit, karena aku belum puas menikmati keindahan di malam hari. Ketika aku melangkahkan kakiku yang pertama untuk beranjak masuk rumah, aku pun melihat bintang jatuh. Karena merasa terkejut, aku pun langsung berteriak. “ibuuk-ibuuk, ada bintang jatuh!”
“ssseeet, jangan keras-keras, nanti ayah kamu bangun lho. Dimana bintang jatuhnya?”
“Itu-itu “. Jawabku dengan kegirangan.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara langkah yang semakin  mendekat ke pada aku dan juga Ibu. “Ada apa sih malam-malam begini teriak-teriak”. Ternyata itu adalah suara Ayahku yang sedang keluar dari pintu, sambil mengucek matanya.
“Itu kan, Ayahmu jadi bangun”. Kata Ibuku. Akan tetapi aku mengabaikan kata-kata Ibuku.
“Itu Yah, ada bintang jatuh.! Cepet kesini!!”. Suara lantang itu, lagi-lagi keluar dari mulutku dengan tak sadar.
“Oh iya, sekarang Ayah melihatnya”. Jawab Ayahku, dengan mengucek mata sebelah kiri dengan jari kelingkingnya semakin cepat.
“Ibu, Ayah, selagi ada bintang jatuh, aku ingin sekali berdoa. Karena aku pernah mendengar dari seseorang, ketika ada bintang jatuh kita boleh berdoa agar doanya terkabul. Ya Alloh ijinkanlah hambamu yang berlumuran dosa ini mohon doa kepada-Mu, ampunilah dosa kedua orang tua hamba, yang telah membesarkan hamba dan juga mendidik hamba dengan baik, dengan sabar dan penuh kasih sayang, dan juga ampunilah dosa hambamu ini. Ya Alloh jadikan hambamu ini menjadi orang yang berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan juga negara, Jadikanlah hambamu ini menjadi orang yang selalu diberi kemudahan dalam mengerjakan segala hal, mudahkanlah dalam mencari rizki-Mu. Ya Alloh jadikanlah hambamu ini menjadi hambamu yang selalu tabah dalam menghadapi masalah yang Engkau berikan kepada kami, jadikanlah hambamu ini menjadi orang yang selalu bersyukur kepadamu, menjadi orang yang selalu bertaqwa dan beriman kepadamu dan lindungilah keluarga hambamu ini dari segala marabahaya. Ya Alloh jadikanlah hambamu ini menjadi anak yang sholekhah, berbakti kepada kedua orang tua. Dan jadikanlah keluargaku, menjadi keluarga yang utuh, shakinah, mawadah, warohmah. Amin. Ibu dan ayah mau berdoa apa?”
“Iya ibu juga mau berdoa, Ya Alloh berikanlah rahmatmu berupa umur panjang kepada kami, berikanlah petunjukmu kepada kami, agar sisa-sisa umur yang telah engkau berikan berguna untuk menyembah-Mu, dan diberikan kekuatan dalam menjalankan perintah-Mu dan jadikanlah hambamu ini menjadi Ibu yang baik untuk anak hamba, dan juga menjadi istri yang baik untuk suamiku. Jadikanlah hambamu ini menjadi orang yang selalu bersabar. Amin”.
“Ya Alloh, Ya Robku, Engkaulah penguasa seluruh isi jagad raya, Engkaulah yang mengubah siang menjadi malam, Engkaulah yang menciptakan kami, Engkaulah tuhan kami, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Alloh, ya Rohim jadikanlah hambamu ini menjadi Ayah yang dapat menghidupi keluarga hamba, maka dari itu lapangkanlah rizki-Mu ya Alloh. Jadikanlah hambamu ini menjadi hamba yang dapat memimpin keluarga hamba dengan baik, dengan benar menurut syariatmu lagi dengan lemah lembut. Ya Alloh jadikanlah hambamu ini menjadi teladan untuk istri dan anakku. Semoga Engkau menjadikan istri hamba, menjadi istri yang selalu taat kepada hamba, selagi itu masih di jalan-Mu. Jadikanlah anak hamba menjadi anak yang sholehah dan berbakti kepada kedua orang tua. Ya Alloh jauhkanlah keluarga hamba dari jilatan api Neraka. Jadikanlah keluarga hamba menjadi keluarga yang selalu diberi rahmat dan menjadi keluarga yang shekinah. Amiin.”
Setelah berdoa, akhirnya aku saling berpelukan dan saling minta maaf satu sama lain. Saat itulah menjadi malam yang sangat mengharukan bagi keluargaku. Suasana hening kini berubah menjadi suasana mengharukan, air mata pun menetes dari mataku. aku yang tak tertahankan lagi menahannya. Suara tangis pun sedikit terdengar disela-sela suara jangkrik. Akan tetapi keindahan bintang dan juga bulan tiba-tiba terusik oleh gumpalan awan hitam.
Hingga akhirnya malam yang terang berubah menjadi malam yang petang lagi kelam. Kini kelipan bintang dan sinar bulan tak mampu lagi untuk menembus gumpalan awan yang sangat tebal. Malam yang sebelumnya penuh warna warni, kini hanya menjadi malam yang petang, tak ada sedikit warna yang mencoret langit, kecuali warna hitam.
Suara jangkrik pun tiba-tiba ikut membisu. Saat itulah malam begitu petang lagi tenang, tak ada suara sebunyipun. aku menatap ke langit, kini yang aku dapat hanyalah kegelapan. Yang aku rasakan saat itu bagaikan orang buta. Aku sedikit kecewa dengan keadaan saat itu. Karena perubahan keadaan yang begitu cepat. Yang sebelumnya penuh dengan pancaran sinar, kini hanya petang. Sinar bintang dan juga bulan, kini tiba-tiba diganti dengan sinar kilat.
“Ayo, sekarang kita masuk rumah saja, sepertinya di malam hari ini akan segera turun hujan”. kata Ayahku.
“Ayo Yah, lagian sekarang sudah terlalu larut malam”. Jawab ibu sambil merangkulku yang kecewa.
Akhirnya keluargaku masuk ke rumah. Sesampai di depan pintu kamar, Ayah dan Ibu mencium keningku. “Selamat beristirahat ya, dan semoga malam hari ini menjadi malam yang tak terlupan”. Kata ibuku.
Tak sepatah kata pun tak keluar dari mulutku, aku hanya tersenyum dengan keterpaksaan karena masih terlalu kecewa dengan keadaan yang berubah begitu cepat. Aku pun menutup pintu dan mengambil sebuah selimut yang dilipat rapi sebelumnya oleh Ibuku. Sesegera mungkin aku membaringkan tubuh di tempat tidur. Satu jam telah berlalu, tapi mataku yang tadinya terasa berat, kini tak dapat dipejamkan. Seketika itu terdengar suara rintikan di genting. Aku langsung bangun dari tempat tidur dan membuka kelambunya yang berwarna putih yang dihiasi dengan pita bermotif batik. Jendela yang terbuat dari kayu jati berukir bunga melati itu lekas aku buka. Ternyata benar yang dikatakan oleh Ayahku bahwa hujan akan segera turun.
Kini airpun sedang mengguyur rumahku. “Ya Alloh, jadikanlah hujan ini menjadi berkah dan juga rahmat bagi kita semua. Ya Alloh mengapa engkau mengubah keadaan ini begitu cepat, semoga saja ini adalah berkah-Mu, karena ini semua adalah kuasa-Mu, hamba hanya bisa menerima, berusaha dan juga berdoa. Tapi mengapa ya Alloh, perasaanku mengatakan bahwa akan ada sesuatu dengan keluargaku ini. Perasaanku yang tadi adalah pelukan keluargaku yang terakhir. Tapi semoga saja, ini hanya perasaanku saja. Aku yakin Engkau adalah Tuhan Pengasih lagi Penyayang bagi hambanya.”
Tak lama kemudian terdengarlah suara katak dari arah pekarangan yang telah menggantikan suara jangkrik. Suara katak pun mengantarkan tidurku. Hingga aku pun tertidur lelap sampai pagi.
“Tok, tok, tok, Metaa, tok, tok, Metaa.. sudah pagi ini, kok belum bangun”.
“Sebentar Bu”. Jawabku dengan suara yang serak. Segera mungkin aku buka jendela, dan tak menyangka, aku langsung disambut dengan kicauan burung prenjak yang bersanggar di pohon dekat jendela. Burung itu berwarna abu-abu dengan kepala berwarna kuning kecoklat-coklatan, dengan paruh sedikit panjang, membuat ketertarikan tersendiri bagiku. Dari arah Timur Sang Surya telah memancarkan sinarnya, sehingga membuat suasana pagi hari menjadi sedikit hangatkanku. “kriiiiiiingg” terdengar suara jam deker yang tergeletak di atas almari berwarna cokelat pekat. Pukul menunjukkan pukul setengah 7, aku harus cepat-cepat bergegas untuk mengambil air mandi, karena aku harus masuk sekolah pukul 7.
“Masak apa Bu?”. Tanyaku sesudah mandi.
“Ibu masak sayur lodeh dan juga rica-rica ayam, special menggunakan kecap kesukaanmu”.
“Wah enak dong, makan ah..oh iya Yah, nanti Meta diantar kesekolah ya, karena sekarang  sudah hampir pukul 7, sekalian Ayah berangkat kerja kan?”.
“Tenang saja nanti Ayah yang mengantar kamu, sekarang kamu makan yang kenyang dulu”. Jawab Ayahku dengan memakai dasi yang bercorak belang.
“Ayo Yah berangkat, tapi nanti kalau pulang Meta jemput lagi, ya sekitar pukul setangah 2”.
Akhirnya aku dan Ayah berangkat bersepeda motor yang baru dibeli. Sedang Ibu bersih-bersih di rumah. Terik matahari begitu menyengat tubuh, Ibuku pun berhenti membersihkan rumput yang ada di depan rumah. Seusai beristirahat sejenak, tepatnya pukul 1, tiba-tiba datang seorang laki-laki menemui Ibuku. Dia adalah Santo, ia merupakan teman SMA Ibuku yang setelah lulus, ia merantau ke Sumatera. Santo yang baru pulang dari toko emas tak sengaja melihat Ibuku, hingga akhirnya mampir. Ibuku pun mempersilahkan Santo untuk masuk rumah. Mereka berdua berbincang-bincang seputar ia masih sekolah dan juga Ayahku. Tak terasa hampir setengah jam lebih mereka saling bercerita. Santo pun pamit untuk pulang. Dari kejauhan aku dan ayah melihat Santo sedang berjabat tangan dengan Ibu. Akan tetapi Santo sudah pergi jauh.
“Siapa laki-laki tadi?”. Tanya Ayahku.
“Oh dia, dia itu teman lama Ibu ketika SMA, yang baru pulang dari Sumatera, namanya Santo”. Jawab Ibuku dengan jujur.
“Ooo, Santo ya”. Tegas Ayah sambil memendam rasa curiga dan juga cemburu.
“Yah..! Sekarang kan tanggal 18 juli, berarti 11 hari lagi ulang tahunku yang ke-15, Ayah dan Ibu mau ngado apa ?”.
“Waduh, hampir saja Ayah dan Ibu lupa, mau ngado apa ya?kejutan aja ya, sekarang ganti pakaian dulu saja”. Jawab ibu dengan suara yang pelan.
Hari pun telah berganti, Ibuku pun menemukan emas di tempat duduk. Seketika itu Ibuku bingung, karena tak merasa mempunyai emas baru. Ibu mencoba mengingat orang yang datang kemarin. Satu-satunya orang yang datang kemarin hanyalah Santo. Akhirnya Ibu berkeinginan untuk mengembalikan ke Santo, tapi ketika hendak keluar dari pintu gerbang, Santo pun sudah datang kerumahnya terlebih dahulu. Maksud kedatangan Santo untuk mencari emasnya yang hilang kemarin. Ibuku mengampirkan Santo kerumah yang kedua kalinya dan menyerahkan emas tersebut. Ketika menyerahkan emas ke Santo, Ayahku melihatnya. Rasa cemburu dan curiga mulai membara. Ayahku menganggap kalau Ibu telah selingkuh, tanpa mengetahui yang sebenarnya. Saat itulah tingkah laku Ayah menjadi berubah total, yang tadinya penyayang, pengasih, lembu, tidak suka main tangan kepadaku dan juga Ibu, kini dapat dikatakan berubah 1800. Kini menjadi Ayah yang sangat kenjam, suka main tangan kepadaku maupun Ibu.
Aku merasa keluargaku sudah tak seindah dulu, karena hampir tiap hari terjadi percekcokan antara Ayah dan Ibu. Ibuku sudah menjelaskan pertemuan dengan Santo, tapi Ayahku tak percaya. Ternyata benar perasaan yang dialamiku pada suatu malam, ketika malam begitu indah tiba-tiba berubah menjadi malam yang sama sekali tak menarik. Dan keadaan itu sama yang dialami keluargaku. Dulu keluargaku bagaikan surga dunia kini berubah menjadi neraka dunia. Aku kadang merasa tak tega melihat Ibu selalu di sakiti, aku pun mencoba untuk membela Ibu, hingga akhirnya Ayah juga menyakiti aku. Saat itu ulang tahunku tinggal satu minggu lagi, tapi saat itu aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan Ibu dan Ayahku, kalau mereka akan segera bercerai dan secepat mungkin akan mengurus surat perceraian. Ketika aku mendengar kata cerai yang diucapkan oleh Ayah, air mataku jatuh kebaju. Hatiku sangat sakit. Aku tak ingin orang tuaku bercerai. Tapi sifat Ayahku keras kepala tak mau mendengarkan penjelasan dari Ibu. Hidupku terasa sudah hancur saat itu.
Pada tanggal 29 Juli, tepatnya hari ulang tahunku, saat itu Ayahku resmi bercerai dengan Ibuku. Hatiku sakit bagai di tusuk seribu tusukan pedang, bahkan lebih sakit dari itu. Aku tak bisa membayangkan, mengapa Tuhan memberikan jalan hidup keluargaku begitu berat. Seharusnya di tanggal 29 Juli adalah hari yang sangat bahagia buatku, hari yang kutunggu-tunggu, tapi kini menjadi hari yang paling menyedihkan buat aku dan keluargaku. Lebih-lebih mereka sudah berjanji, ketika aku ulang tahun nanti, orang tua aku ingin memberikan kejutan. Ternyata kejutan itu lebih dari kejutan yang meluluh lantakkan hati aku. Kado kejutan ternyata surat perceraian resmi antara Ayah dan Ibu. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi aku dan Ibu diusir dari rumah. Hingga akhirnya aku dan Ibu pergi ke orang tua Ibu. Saat itulah hidupku tak semangat lagi. Kesepian melanda perasaanku. Akan tetapi aku masih mempunyai Ibu yang selalu memberi semangat kepadaku dan juga selalu menyayangi aku. Hingga akhirnya hari-hariku, aku jalani bersama keluarga Ibuku.
Tak beberapa lama aku mendengar bahwa Ayahku menikah lagi dengan wanita lain. Jantungku berdetak kencang, keringatku keluar hingga membasahi bajuku karena mendengar kabar itu. Kemudian aku memastikan kabar itu, dan ternyata benar ketika aku ke rumah ayah, ada wanita yang sedang bergandengan dengan Ayah. Aku tambah sedih, mengapa Ayah begitu mudah melupakan Ibu. Padahal aku berharap agar Ayah dan Ibu dapat menyatu lagi seperti dulu, main bersama, bercanda bersama, saling berpelukan. Tetapi sekarang tak mungkin lagi karena Ayahku sudah menikah lagi dengan wanita lain. Aku pun menemui Ayahku dan juga Ibu Tiriku. Ibu Tiriku tau bahwa aku adalah anak suaminya sekarang. Aku diusir bagai sampah yang tak berguna lagi. IbuTtiriku sangat galak, sampai Ayah tak berani melarangnya saat mengusir aku. Sampai-sampai Ibu Tiriku melarang untuk bertemu Ayah lagi. Aku juga tidak tau alasan apa yang bisa membuat Ibu Tiriku tidak suka padaku.
Tetapi walaupun Ayah dan Ibu Tiriku memperlakukanku dengan kasar, aku tidak bisa membenci mereka. Karena Ibuku selalu mengajarkan agar tidak boleh membenci seseorang, sekalipun ia telah menyakitinya. Genap 5 tahun, tepatnya aku berusia 20 tahun, aku tidak pernah bertemu dengan Ayahku. Semenjak Ayahku menikah lagi, aku tak pernah berhubungan sama Ayah. Aku juga tidak tau kabarnya sekarang. Tetapi aku berharap semoga Alloh selalu melindungi ayah dan semoga Alloh selalu memberikan kesehatan.
Beberapa bulan yang lalu, Ibuku juga menikah lagi dan sekarang ikut Ayah Tiriku tinggal di Ambon. Ketika aku merasa kesepian saat pisah dengan Ayah, kini aku merasa kesepian yang kedua kalinya. Aku harus pisah lagi dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidup aku yaitu Ibu yang telah melahirkan dan juga mendidikku dengan baik. Berat rasanya ketika aku berpisah dengan Ibu. Aku sangat merindukan pelukan keluargaku yang dulu, tetapi keadaan tak memungkinkan lagi. Sekarang yang dapat aku lakukan hanyalah berdoa, agar aku selalu diberi ketabahan dalam menjalani hidup yang sangat pahit, berat, sedih lagi menyakitkan ini, tapi aku yakin Alloh pasti akan memberikan jalan yang terbaik dan Alloh pasti akan memberikan hari yang terbaik setelah ini.
Akan tetapi cobaan itu belum kunjung berakhir, karena semenjak Ibu tinggal di Ambon, setiap kali aku SMS, Ibu selalu menjawab”Nanti saja Ibu sedang sibuk”. Tiap kali aku SMS jawaban itu yang selalu diberikan oleh Ibu. Aku selalu menangis, karena keadaan yang tidak mengenakkan bagi aku tak kunjung berakhir. Sampai-sampai aku bingung mau menyandarkan kesedihan ini kepada siapa. Karena dahulu tiap kali aku sedih, Ibul dan Ayahkulah yang selalu menenangkanku, selalu melindungiku, tapi kini aku merasa ibu telah jauh dari kehidupan aku.
Alhamdulillah setelah aku bersabar, akhirnya Ibuku memberi kabar ke aku, bahwa Ibuku disana baik-baik saja. Aku sangat terharu mendengar kabar itu. Air mata kebahagiaan kini bisa mengalir dan dapat kurasakan. Sekian lama aku merindukan dan tak mengetahui kabar orang tuaku, kini telah memberi kabar. Terima kasih ya Alloh, Engkau telah melindungi orang tuaku. Ibu, Ayah, aku akan selalu merindukan kalian berdua, aku akan tetap mencintai kalian. Engkau akan selalu dihatiku, walaupun jarak kita sudah sangat jauh. Aku berjanji aku akan menjadi anak yang tegar, menjadi anak yang selalu mendoakanmu. Ayah Ibu semoga engkau juga selalu merindukanku. Aku berharap suatu ketika aku ingin bertemu dengan kalian. Ayah Ibu aku akan mencintaimu selamanya. Walaupun kita sudah berpisah, akan tetapi hati kita akan selalu menyatu. Dan pelukan dimalam hari itu semoga bukan pelukan yang terakhir kalinya untuk kita. Terimakasih Alloh. Dan sampai sekarang aku tinggal bersama Bibiku di sebuah Komplek Hotel Candra.
Sekian dan Terima Kasih

cerpen SENJA BERUJUNG FAJAR


SENJA BERUJUNG FAJAR
Matahari telah memancarkan sinarnya, nampaklah seorang remaja yang sedang beristirahat. Dengan baju yang dikenakan terlihat basah, keringatpun bercucuran dari tubuhnya, nampaknya remaja tersebut baru saja melakukan olahraga pagi. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, remaja itu harus segera berbenah diri, karena jam 07.30 WIB harus mengikuti mata kuliah Komunikasi tutur. Dengan penuh rasa semangat remaja itu mempersiapkan semua perlengkapan yang hendak dibawa kekampus.
“Semuanya sudah beres belum nak?”Tanya ibu Oziq.
“Sudah Bu, Oziq sekarang siap berangkat ke kampus”.
“loh, kok tidak sarapan dulu, ini Ibu sudah mengoreng telur untuk kamu”.
“saya makan nanti saja bu, karena sekarang waktu sudah agak siang, saya takut terlambat”.
“Ya sudah, sana berangkat, hati-hati ya nak”.
Akhirnya dengan sepeda buntutnya Oziq berangkat ke Kampus. Oziq adalah seorang remaja yang dilahirkan dari golongan yang kurang mampu. Ibu dan ayahnya hanyalah sebagai petani buruh yang tidak menentu hasilnya. Akan tetapi walaupun keadaannya demikian, Oziq tak pernah merasa malu dengan teman-temannya yang kehidupannya jauh lebih baik daripada Oziq. Oziq selalu menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan  kedisiplinan selalu dinomor satukan.
Dengan perjalanan kurang lebih sekitar 45 menit, Oziq pun akhirnya sampai di kampus tercintanya, yaitu Universitas Tidar Magelang.  Di parkiran sudah terlihat sepeda motor yang tertata dengan rapinya, Oziq pun juga memarkirkan sepeda motornya dengan rapi. Tak lama kemudian Oziq disapa temannya.
“Ziq, apakah kamu sudah menyiapkan skrip siaran untuk komunikasi tutur nanti”, Tanya Awan sambil duduk di atas sepeda motornya yang baru.
“Aku sudah membuatnya, nanti tinggal membacakan di depan saja, kamu sendiri sudah membuat belum?”
“Aku juga sudah kok, oh ya ayo sekarang kita masuk kelas Ziq, karena sekarang sudah jam setengah delapan kurang 2 menit”.
“Ayo, “
Oziq dan Awan pun melangkahkan kakinya dengan penuh kepastian. Nampaknya di kelas sudah banyak mahasiswa yang sedang membawa skrip siaran radio. Semua mulut mahasiswa pun bergumam dengan nada yang penuh dengan warna, serasa kelas seperti pasar yang sangat ramai dengan suara. Semua mahasiswa berlatih seakan-akan menjadi penyiar radio, karena satu persatu nanti akan diuji oleh asisten dosen yang mengajarkan komunikasi tutur. Tak lama kemudian, datanglah seorang Asisten dosen yang diberi kepercayaan untuk mengajarkan tentang siaran. Asisten dosen yang sangat muda, akan tetapi dalam pengalamannya tentang siaran radio sangat mahir. Pelajaran pun dimulai. Beberapa mahasiswa pun sudah disuruh maju untuk berbicara selayaknya menjadi penyiar radio. Dari mahasiswa yang sudah maju, seluruhnya lancar dan benar dalam pengucapannya. Hingga akhirnya tibalah giliran Oziq yang harus maju.
“Semua yang sudah maju, saya rasa sudah sedikit masuk kriteria jika menjadi seorang penyiar radio, sekarang kita dengarkan Oziq, silakan Oziq untuk mempersiapkan diri”. Kata asisten dosen yang sangat muda lagi energik.
“Oh ya pak, saya sudah siap”.jawab Oziq sambil melangkah maju.
“Tolong yang lain diam, kita dengarkan cara berbicaranya Oziq, sudah siap kamu Oziq?”
“Sudah Pak,”jawab Oziq dengan tegas.
“Oke silahkan dimulai’”
“98.8 UTM Radio Universitas Tidar Magelang more information  more music/selamat pagi semuanya/bagaimanakah kabar kamu?/semoga aja kamu tetap dalam keadaan baik-baik saja//dan selama 2 jam kedepan/kamu bakal ditemani fatkhurkhan di hot cafĂ©/tentu dengan brownis domes dan manca/tentu yang masih baru//oh ya kebersamaan kita tadi udah di buka dengan satu brownis/ datangnya dari ungu with dia atau diriku//soo biar kebersamaan kita makin tambah berasa asik/langsung aja kita simak brownis berikutnya/ datangnya dari katty pery with California girl// pokoknya buat kamu pastikan tetap staytune on 98.8 UTM radio/jelas hanya barengan Fatkhurkan”..///turur Oziq dengan suara yang terdengar groji, pengucapan kata yang kurang tepat dan kurang jelas, dengan kaki yang gemetaran.
Ketika Oziq selesai berbicara selayaknya menjadi penyiar radio, seluruh isi kelas tertawa akan kelucuan Oziq atas pengucapan kata-kata “98.8” yang tidak bisa diucapkan Oziq secara tepat. Sehingga setelah kejadian itu Oziq merasa malu akan kekurangannya dalam pengucapan kata-kata tersebut. yang lebih parah lagi, akibat dari pengucapan yang kurang tepat tersebut, sekarang Oziq selalu dijadikan bahan pembicaraan dan bahan ledekan oleh sebagian temannya.
“hay Oziq, masak ngucapin kata sesingkat itu gak bisa, kaya anak TK aja”tutur Tini, yang dilanjutkan tertawa terbahak-bahak.
Teman-teman disekitarnya pun juga ikut tertawa mendengarkan perkataan tersebut.
“iya ya, masak ngucapin seperti itu saja, aku tak bisa”,jawab Oziq dengan raut muka yang kemerah-merahan.
Sebulan telah berlalu dari kejadian yang sangat sepele tersebut, akan tetapi ledekan tentang kata”98.8” masih sering terdengar di telinga oziq. Hingga akhirnya Oziq berjanji kepada diri sendiri untuk membuktikan kepada teman-temannya bahwa Oziq bisa mengatakan kata tersebut dan Oziq berjanji untuk menjadi penyiar radio agar teman-teman tak lagi meledeknya.
“Sekarang semua teman-teman boleh meledek aku, tapi aku berjanji akan membuktikan kepada mereka, bahwa aku mampu untuk menjadi penyiar radio, dan semoga saja ledekan selama ini berubah menjadi pujian” kata Oziq didalam kesendiriannya.
Semasa itulah Oziq selalu bersemangat untuk mewujudkan keinginannnya untuk menjadi penyiar radio. Hingga akhirnya, dengan tidak sengaja Oziq menemukan gelombang radio yang mengiklankan tentang penerimaan kursus kepenyiaran radio. Mendengarkan iklan tersebut, akhirnya Oziq mendaftarkan diri untuk menjadi peserta kursus dalam kepenyiaran radio. Selama 5 bulan Oziq telah mengikuti kursus tersebut. Dari waktu 5 bulan tersebut, 2 bulan untuk materi dan 3 bulan langsung praktek menjadi penyiar yang langsung bisa didengarkan oleh publik.
Ketika itu manager yang membuka kursus tersebut suka akan gaya Oziq dalam bersiaran, dengan alasan Oziq penuh  ekspresi dan  mempunyai suara yang unik, sehingga manager tersebut menarik Oziq untuk dijadikan penyiar di 88.1 FM.
Selama 7 bulan Oziq selalu siaran diradio tersebut, akan tetapi semua temannya belum tahu, bahwa Oziq sekarang menjadi penyiar radio. Karena Oziq selalu tutup mulut, bahwa ia sekarang seorang penyiar radio di 88.1 FM. Tiba-tiba selang 2 hari, kabar tentang Oziq menjadi penyiar radio menjadi bahan pembicaraan di kelas. Semua teman-teman ingin mendengarkan suara Oziq ketika siaran. Walaupun sekarang ini Oziq dikenal dengan seorang penyiar radio, bukan lagi dikenal dengan sesorang yang tak dapat mengucapkan kata “98.8” Oziq pun selalu merendahkan diri. Oziq merasa sangat bangga, karena sekarang ia telah bisa mewujudkan keinginannya menjadi penyiar radio, bahkan yang lebih membuat bangga adalah teman-teman yang dulu sering meledeknya, sekarang menjadi kagum terhadap Oziq.

SELESAI

BANJIR JAKARTA DAN LORONG SALURAN BANJIR


Nama               : Fatkhurroziqin
NPM               : 0910301025
Mata Kuliah    : Teknik Penulisan Artikel

BANJIR JAKARTA DAN LORONG SALURAN BANJIR
Banjir merupakan suatu luapan air dari selokan atau dari sungai yang menggenangi jalan, bahkan sampai menggenangi rumah. Banjir  pun sering mengakibatkan kerusakan yang parah terhadap bangunan, pembawa berbagai bibit penyakit,  bahkan banjir dapat menyebabkan orang meninggal dunia. Selain itu banjir juga dapat melumpuhkan perekonomian bagi masyarakat. Sehingga masalah banjir tidak lagi menjadi persoalan yang sederhana, melainkan masalah yang sangat berat dan sulit untuk diatasi.
Banjir dapat dikatakan menjadi persoalan yang sangat komplek, karena setiap tahun, khususnya di Jakarta selalu terjadi banjir. Bahkan sampai sekarang persoalan tentang banjir belum dapat diatasi. Akan tetapi sebelum membahas bagaimana cara menanggulangi banjir, terlebih dahulu kita membahas mengapa banjir itu bisa terjadi.
Banjir bisa terjadi karena dua faktor yaitu faktor alam dan faktor dari manusia. Dikatakan banjir itu disebabkan oleh faktor alam adalah jika hujan terjadi secara berkepanjangan, tentu air hujan yang dihasilkan akan banyak, sehingga akan mengakibatkan banjir.  Adapun faktor penyebab banjir yang kedua adalah karena ulah manusia itu sendiri. Kadang manusia sering menyalahgunakan fasilitas yang ada dan manusia sering melakukan kebiasaan-kebiasaan yang mereka anggap perilakunya itu adalah hal yang biasa yang tidak akan membawa dampak dikemudian hari, padahal kebiasaanya tersebut dapat mengakibatkan kefatalan.
Misalnya saja selokan dan sungai yang fungsi utamanya adalah untuk saluran air, sekarang ini fungsi utama tersebut tidak hanya untuk saluran air, melainkan selokan dan sungai tersebut juga digunakan untuk tempat pembuangan sampah dan sudah menjadi hal yang biasa. Sehingga apa yang terjadi jika kita selalu membuang sampah di selokan dan di sungai, tentunya sampah-sampah tersebut akan menghambat saluran air dan sampah yang sudah menumpuk dalam volume yang banyak akan menyebabkan air yang mengalir di selokan dan di sungai akan meluap. Itu semua dapat kita lihat terutama di kota-kota besar, khususnya di Jakarta,  sungai-sungainya penuh dengan sampah.
Bahkan jika kita melihat di sekitar sungai tidak hanya terdapat sampah, akan tetapi disekitar sungai, banyak yang menggunakannya untuk dijadikan permukiman. Sehingga sungai yang tadinya sangat lebar dan lancar untuk dialiri air, kini menjadi sempit dan aliran air kurang lancar. Jadi tak heran lagi jika kita sering mendengarkan berita tentang permukiman disekitar sungai yang sering kebanjiran. Yang menjadi pertanyaan mengapa orang membangun permukiman di sekitar sungai? Tentu pertanyaan itu sudah tak asing lagi.
Orang membangun permukiman disekitar sungai karena sama sekali tak punya lahan untuk mendirikan bangunan yang sepantasnya. Selain itu orang membangun permukiman disekitar sungai karena orang tersebut pendatang baru yang ingin mengadu nasibnya di kota Jakarta dengan bermodalkan nekat, belum mempunyai tempat tinggal dan belum mempunyai modal yang cukup untuk mendirikan bangunan, sehingga orang tersebut memilih untuk mendirikan bangunan yang sederhana dengan biaya yang sangat murah yaitu disekitar sungai.
Kondisi tersebut diperparah lagi dengan kurangnya pepohonan sebagai jantung kota. Jika kita melihat di Jakarta, semakin hari bangunan yang dibangun selalu bertambah. Yang tadinya hutan yang penuh dengan pepohonan, kini telah banyak dirubah menjadi apartemen dan gedung-gedung bertingkat. Sehingga ketika hujan turun, hutan dan pepohonan yang dulunya dapat menyerap air hujan, kini tidak lagi, karena telah didirikan bangunan. Maka di Jakarta tak adalagi tempat untuk istirahat air.
Demikianlah beberapa penyebab mengapa banjir itu terjadi dan setelah kita mengetahui penyebab banjir, sekarang akan dibahas cara mananggulangi banjir. Berkenaan dengan masalah kebiasaan membuang sampah di sungai, tentu itu membutuhkan kesadaran yang tinggi dalam diri manusia masing-masing dan sebisa mungkin kita saling mengingatkan satu sama lain agar membuang sampah ditempatnya dan bisa memfungsikan selokan dan sungai sebagaimana semestinya digunakan yaitu untuk saluran air.
Kemudian untuk masalah sampah di kota-kota kita harus menunjuk beberapa orang untuk dijadikan penunanggungjawab terhadap sampah-sampah yang ada diwilayahnya. Dengan disetiap tempat ada seseorang yang bertanggunagjawab terhadap sampah dan kebersihan, tentu besar kemungkinan dapat menanggulangi banjir. Selain itu untuk masalah permukiman disekitar sungai yang kebanyakan yang menempati adalah orang pengadu nasib yang bermodalkan nekat, dengan tujuan yang tidak jelas, sebaiknya dari pemerintah Jakarta harus tegas untuk melarang membuat permukiman disekitar sungai. Jika kita melihat sekarang ini masih banyak permukiman disekitar sungai, itu menandakan pemerintah kurang tegas dalam menjalankan tugas.
Kita tau, bahwa bangsa Indonesia ini terkenal dengan asas saling menghargai dan menghormati,  akan tetapi jika ada seseorang yang membuat permukiman yang tidak sepantasnya untuk didirikan bangunan dan jelas-jelas itu sudah menjadi sebuah larangan, maka asas-asas tersebut tidak lagi digunakan demi kebaikan semua. Dengan adanya ketegasan dari pemerintah, tentu orang yang ingin mengadu nasib dengan modal nekat ke kota Jakarta akan berfikir dua kali.
Selain hal tersebut, untuk menanggulangi banjir kita harus melakukan penanaman pohon kembali, mengingat pohon adalah salah satu penopang kehidupan di kota, akar-akar pohon pun dapat mengikat air ketika hujan. Pohon juga penetralisasi pencemaran udara dikala siang hari. Selain penanaman pohon, untuk mengatasi banjir, harus diadakan pembatasan mendirikan bangunan, sehingga antara tanah yang belum didirikan bangunan dan tanah yang sudah ada bangunannya bisa seimbang.
Kita tau, bahwa tanah yang sudah dibubuhkan bangunan ketika hujan turun, air tidak dapat meresap, melainkan air hanya lewat saja. Akan tetapi jika masih ada tanah yang belum didirikan bangunan, tentu tanah tersebut dapat menyerap air dikala hujan. Dengan adanya keseimbangan, tentu kemungkinan terjadinya banjir akan lebih kecil. Namun jika melihat kondisi sekarang ini, khususnya di perkotaan mayoritas sudah didirikan bangunan, maka tak ada lagi keseimbangan. Sehingga untuk mengatasi banjir di Jakarta, yang merupakan salah satu kota, yang sudah penuh dengan bangunan, maka Jakarta harus ditangani secara khusus yaitu dengan dibangun saluran banjir bawah tanah (underground flood ways), dengan dibuat lorong-lorong di bawah bangunan-bangunan dan di bawah tanah di sepanjang Jakarta, tentu  dapat menanggulangi banjir.

Comments List